27
Sep
2022

Bagaimana Skema Pendidikan Indonesia Dibandingkan Negara Lain?

Karena kalimat “Waktu SMA ialah waktu yang sangat indah” yang entahlah tersebar darimanakah, berseragam putih abu-abu jadi mimpi kecil beberapa mereka yang masih tetap SD atau SMP. Termasuk juga saya.

Selulusnya dari SMP, saya menanti-nanti, waktu hebat seperti apakah yang akan saya bisa di 3 tahun ke depan?

Anak kecil dalam dada saya sudah tumbuh jadi lelaki dengan celana yang di turunkan sepinggul, komplet dengan ikat pinggang berkepala besar serta kaos junkies yang menunjukkan bentuk tubuh yang kebanyakan tulang. Saat itu, waktu SMA saya dipenuhi film berlatar SMA. Dari mulai Ada Apa Dengan Cinta (AADC), sampai Catatan Akhir Sekolah. Di kepala saya, seperti ada ketentuan tidak tercatat yang mengatakan jika SMA ialah salah satu waktu yang mewajarkan saya untuk jadi anak nakal. Pasti, ini pandangan yang keliru. Serta pasti, salah satu hal nakal yang saya kerjakan ialah saat acara pensi, pada saat band metal bermain serta rekan-rekan lainnya berkerubung ditengah-tengah lapangan untuk moshing, saya malah berteriak mantap: “Yomaaan!”

Insting reggae saya tidak dapat ditaklukkan.

Saat itu saya benar-benar tidak pahami keutamaan pendidikan jual kursi sekolah . Jika SMA ialah bunyi shooting sebelum beberapa pembelajar melejit keluar dari garis start ke arah suatu hal namanya kehidupan.

Bagaimana materi SMA otomatis melatih kekuatan saya dalam memikir rasional, memutuskan, serta membuat rangka memikir yang saya pakai sampai sekarang ini.

Bukannya, lingkungan saya justru memandang sekolah seperti penjara yang mengekang. Ini nampak dari beberapa kesan-kesan serta pesan yang dicatat anak kelas tiga di buku tahunan. Dari mulai yang katakan: “Sekolahku penjaraku!” sampai yang terang-terangan “Pak D*ddy memberi peer mulu! Kita tidak hanya belajar biologi saja, Pak! Kimia, fisika, matematika ! Bapak, sich, enak ngajarnya itu doang. Kita semua!”

Walau sebenarnya, pak D*ddy cocok SMA belajar semua.

Saat ini, sesudah masuk bersama-sama Ruangguru, kurang lebih saya cari tahu masalah pendidikan. Mata saya yang sejauh ini menyipit hanya karena lihat dari pemikiran murid, pelan-pelan terbuka. Saya justru ingin tahu: “Sebetulnya, seperti apa, sich, pendidikan yang dimauin di Indonesia ini? Lalu, bagaimana dengan skema pendidikan di belahan bumi lain?”Orang ini, jika kamu belum mengetahui, salah satu jawara saya. Bagaimana tidak, pada saat Belanda mengadakan acara pesta di Indonesia, ia teringat untuk bikin surat protes. Seandainya Saya Seorang Belanda, tulisnya di koran De Expres. Pedes tidak tuch? Protesnya gunakan satir..

Perhatiannya pada pendidikan nampak dari ide ajar skema among (kekeluargaan). Ia katakan jika mendidik anak ialah masalah mendidik rakyat. Serta, dalam Pusara (1940), ia katakan jika tidak bagus menyeragamkan beberapa hal yang penting diseragamkan.

Umumnya, sich, jika bicarakan ia, tema akan bersambung dengan memperbandingkan semangat pendidikan yang ia bawa serta dengan fakta di Indonesia saat ini. Sehubungan angkatan saya lain dengan you you sekaligus, jadi kita coba dialog di kotak kometar saja ya. Seperti bagaimana, sich, langkah guru mengajar, point yang dapat diambil di sekolah, atau rutinitas kamu belajar di sekolah.

Satu hal yang benar-benar mencolok dari negara ini ialah kesenangannya pada membaca. Tidak, pemerintah disana tidak menggalakkan ODOJ alias one day one juz agar anak terlatih membaca. Dibandingkan dibiasain membaca, orang-tua malah mengawali dengan suatu hal yang semakin esensial: menebarkan kesayangan pada membaca.

Akhir kata, orang sana ingin baca ya sebab senang.

Hal-hal lain yang unik ialah, di Finlandia, anak masuk sekolah di umur 7 tahun. Kecuali telat, waktu preschool di Finlandia diisi pekerjaan sosial saja. Murni main sama teman se-TK. Kumpul, nongkrong, nge-vape. Gitu-gitu, deh.

Buat orang Finlandia, lebih bagus memperdalam situasi otak sampai saatnya betul-betul cocok sebelum pada akhirnya dipenuhi hal yang karakternya kognitif seperti materi sekolah.

Menariknya, riset katakan jika terlambat masuk sekolah akan kurangi sulit konsentrasi serta hiperaktif di usia 7 tahun. Dampaknya serta masih berasa sampai umur 11. Buat cowok, masuk di umur 7 akan kurangi permasalahan kesehatan mental di umur 18 tahun (cocok lulus SMA!). Buat cewek, rutinitas ini bisa kurangi tingkat anak yang hamil di umur awal.

Keliatannya enak, kan? Sekolah terlambat, cocok TK main doang, tetapi kok gedenya pintar?

Leave a Reply

Your email address will not be published.